YOGYA - IARC WHO pada tahun 2012 mencatat bahwa kanker yang paling umum terjadi di dunia adalah kanker payudara. Dari seluruh negara yang ada di dunia, ada 151 negara yang warganya mengalami kanker payudara.
Sementara itu, menurut catatan dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementrian Kesehatan RI pada 2015, prevalensi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menempati peringkat tertinggi se Indonesia sebesar 2,4%.
Kasus terbaru, sebanyak 45% jenis kanker pada wanita.
Peringkat tertinggi yang didapat di DIY nampaknya memang benar adanya. Terbukti dengan adanya peningkatan jumlah pasien ICC Tulip RSUP Dr Sardjito sejak tahun 2012. Dan jumlah pasien tertinggi ada di breast cancer.
Hal tersebut harus menjadi titik awareness bagi tiap wanita, pasalnya angka kematian untuk kanker payudara juga sangat tinggi. Bagaimana wanita dapat mendeteksi adanya kelainan dipayudara?
Selain, Breast Self-Examination (BSE) yang dapat dilakukan secara pribadi di rumah, kini ada alat Mammografi Digital Microdose yang dimiliki oleh RSUP Dr Sardjito.
"Mammografi adalah alat pemeriksaan menggunakan sinar X untuk melihat struktur anatomi payudara secaraa non-invasif. Alat ini memiliki dua fungsi sebagai alat deteksi dini kankerpayudara yang belum teraba dan berukuran kecil, dan sebagai alat diagnostik kelainan payudara," ujar Dr. dr Lina Choridah, Sp.Rad (K).
Mammografi bisa dilakukan untuk mendeteksi dini kankerpayudara secara berkala setahun hingga dua tahun sekali bagi wanita berusia di atas 40 tahun.
Selain itu, mammografi juga bisa dilakukan bagi wanita segala usia yang memiliki riwayat orangtua penderita kanker payudaraatau wanita yang dicurigai adanya keganasan payudara.
Sebelumnya, RSUP Dr Sardjito memiliki mammografi analog yang belum otomatis dan memerlukan adanya bantuan operator. Alat mammografi terbaru ini, tentunya berbeda dengan sebelumnya terutama dalam hal kenyamanan.
"Alat ini untuk kompresi, bentuknya melengkung sehingga nyaman untuk pemeriksaan payudara. Selain itu, disertakannya penghangat juga menunjang kenyamanan. Dosis radiasinya yang rendah membuat, alat ini sangat aman bagi pasien," tambah Dr. dr Lina Choridah, Sp.Rad (K).
Dikatakan oleh dr Anita Ekowati, Sp.Rad, bahwa alat mammografi tersebut juga digunakan dibeberapa rumah sakit milik pemerintah, namun yang memiliki computer aided detection untuk melihat secara detail hingga lapisan kulit hanyalah RSUP Dr Sardjito.
Dengan sistem CAD tersebut, akan mengoptimalkan akurasi diagnostiknya.
Tingkat keberhasilan untuk penyembuhan kanker payudaratergantung stadium dari pasien. Selama ini, banyak kasus pengangkatan kanker yang kemudian dinilai tak berhasil karenakanker muncul kembali setelah pengangkatan.
Alat mammografi ini dinilai penting, untuk menunjang keberhasilan penyembuhan pasien kanker.
"Dengan menemukan pasien ada dalam stadium awal kankerpayudara maka hasilnya akan berbeda dengan stadium yang lebih tinggi. Alat ini digunakan untuk yang belum teraba, jadi pada stadium 1 dan 2, untuk mendeteksi lebih dini, agar kemudian bisa segera ditindak lanjuti sehingga dapat menekan risiko kematian," ujar Prof. Dr. dr Teguh Ariandono, SpB (K). Onk.
Untuk mendapatkan pelayanan mammografi ini, pasien dapat menggunakan BPJS dan tidak dipungut biaya sepeserpun ketika mendapat rujukan dari dokter RSUP Dr Sardjito.
Namun, bagi wanita yang akan mendeteksi dini karena ada kecurigaan kanker payudara hanya dikenai biaya pemeriksaan senilai Rp 600 ribu.

0 komentar:
Posting Komentar