Warga Mempawah, Kalimantan Barat, dibikin gerah dengan keberadaan permukiman baru warga eks ormas Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), di wilayah mereka. Sekitar 700 orang warga eks ormas Gafatar, Sabtu (16/1) dini hari, diminta angkat kaki meninggalkan Mempawah dalam 3x24 jam.
Ratusan warga mendatangi permukiman warga eks Gafatar di Desa Antibar dan Desa Suap, Kabupaten Mempawah. Kedua desa itu menjadi tempat bermukim dalam beberapa bulan terakhir, oleh warga asal Jawa Tengah dan Yogyakarta. Keberadaan mereka dinilai warga meresahkan, lantaran paham Gafatar yang menyimpang terus terkuak. Dengan begitu, dikhawatirkan dapat menanamkan paham menyimpang itu kepada warga lainnya di luar permukiman secara perlahan-lahan.
"Masyarakat Mempawah, menghendaki eks Gafatar, tidak berada di lahan Mempawah. Sampai saat ini, kami tidak melihat warga eks Gafatar ini, direhabilitasi dan memastikan sudah tidak ada kaitan lagi dengan Gafatar," kata salah seorang warga Mempawah, Najib, kepada wartawan, Sabtu (16/1).
Dalam aksinya, warga memang tidak menemukan atribut Gafatar di lokasi permukiman seluas 43 hektare itu. Namun ketiadaan bangunan tempat ibadah, membuat warga yakin, permukiman itu masih berpaham terlarang Gafatar.
Perwakilan warga eks Gafatar, Aji, angkat suara. Dia dan warga lainnya bersedia angkat kaki dari Mempawah, namun memerlukan waktu 3 hari ke depan. Mengingat banyaknya anak-anak dan orangtua.
"Kami siap meninggalkan permukiman, kami membutuhkan waktu. Kami juga tidak dapat memahami tuntutan dari masyarakat ini," kata Aji.
Dalam kesempatan itu, warga juga menilai faham Gafatar yang berkeinginan kuat mengelola lahan tidur menjadi areal pertanian, terkesan eksklusif. Sebab, areal pertanian yang tersedia, dilengkapi pos jaga keamanan dan portal dan juga jaringan pengairan. Selain itu, permukiman tersebut juga telah memiliki jaringan listrik. Sehingga hampir dipastikan, memerlukan dana yang tidak sedikit untuk membangun semua fasilitas tersebut.
Keresahan warga pun semakin bertambah lantaran dr Rica Handayani, seorang dokter yang sempat menghilang dari Yogyakarta, belakangan juga diketahui sempat menginap di permukiman warga eks Gafatar tersebut selama 2 hari, hingga akhirnya ditemukan di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.
Ratusan warga mendatangi permukiman warga eks Gafatar di Desa Antibar dan Desa Suap, Kabupaten Mempawah. Kedua desa itu menjadi tempat bermukim dalam beberapa bulan terakhir, oleh warga asal Jawa Tengah dan Yogyakarta. Keberadaan mereka dinilai warga meresahkan, lantaran paham Gafatar yang menyimpang terus terkuak. Dengan begitu, dikhawatirkan dapat menanamkan paham menyimpang itu kepada warga lainnya di luar permukiman secara perlahan-lahan.
"Masyarakat Mempawah, menghendaki eks Gafatar, tidak berada di lahan Mempawah. Sampai saat ini, kami tidak melihat warga eks Gafatar ini, direhabilitasi dan memastikan sudah tidak ada kaitan lagi dengan Gafatar," kata salah seorang warga Mempawah, Najib, kepada wartawan, Sabtu (16/1).
Dalam aksinya, warga memang tidak menemukan atribut Gafatar di lokasi permukiman seluas 43 hektare itu. Namun ketiadaan bangunan tempat ibadah, membuat warga yakin, permukiman itu masih berpaham terlarang Gafatar.
Perwakilan warga eks Gafatar, Aji, angkat suara. Dia dan warga lainnya bersedia angkat kaki dari Mempawah, namun memerlukan waktu 3 hari ke depan. Mengingat banyaknya anak-anak dan orangtua.
"Kami siap meninggalkan permukiman, kami membutuhkan waktu. Kami juga tidak dapat memahami tuntutan dari masyarakat ini," kata Aji.
Dalam kesempatan itu, warga juga menilai faham Gafatar yang berkeinginan kuat mengelola lahan tidur menjadi areal pertanian, terkesan eksklusif. Sebab, areal pertanian yang tersedia, dilengkapi pos jaga keamanan dan portal dan juga jaringan pengairan. Selain itu, permukiman tersebut juga telah memiliki jaringan listrik. Sehingga hampir dipastikan, memerlukan dana yang tidak sedikit untuk membangun semua fasilitas tersebut.
Keresahan warga pun semakin bertambah lantaran dr Rica Handayani, seorang dokter yang sempat menghilang dari Yogyakarta, belakangan juga diketahui sempat menginap di permukiman warga eks Gafatar tersebut selama 2 hari, hingga akhirnya ditemukan di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.
0 komentar:
Posting Komentar